Kamis, 21 Juni 2007

FORKOT, Welcome to Padang!


Sore tadi gw ketemu teman2 dari WP2Sospol. Mereka ngajak gw ktemu ma teman2 aktivis dari FORKOT (Forum Kota, Jakarta) yang baru datang dan lagi mengadakan pameran photo kerusuhan Mei 1998 sekaligus pemutaran film. Sayangnya tidak ada diskusi setelah itu. namun, gw sendiri sempat ngobrol banyak dengan mereka. Kwan2 di FORKOT menilai pemerintahan sekarang gagal dan harus diganti. artinya SBY-JK harus turun. Untuk itu mereka mengadakan roadshow keberapa kota di Sumatera. Tujuannya adalah agar ada konsolidasi bersama untuk melakukan gerakan yang lebih massif dan menyeluruh.
Melihat photo2 itu dan ngobrol dengan mereka membuat girah aktivis gw bangkit lagi. Girah yang lama hilang karena kesibukan gw dengan masalah perasaan yang sentimentil dan sangat menyita energi dan mengacaukan semua ritme hidup gw serta membuat gw kehilangan arah. Menyesal? nggak'! gw ga' pernah menyesal dengan itu semua. itu adalah bagian dari kepingan puzle kehidupan gw.
Selamat datang sahabat2ku. kuangkat topiku untuk kalian. teruslah berjuang demi mimpi2 kita membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Salam Pembebasan!!


Rabu, 20 Juni 2007

Dangdut gitu lho...

Tadi gw ktemu Dia di kampus. Dia menghindar! mengapa? ah, ini pertanyaan yang ga' bisa dijawab. sutra lah bo, sekarang gw lagi asyik dengar lagu dangdut . dangdut music of my country! lumayan juga nih musik menghibur hatiku yang sakit, galau, pedih, perih, kesemutan, senut-senut, pokoke ora penak. o amang, haccit nai na mangolu on!!


mengapa?

Mengapa kau lari
Mengapa menghindar
Mengapa menjauh
Mengapa acuh
Mengapa?



Letih

Letih sekali hari ini. tadi pagi (maksud gw kemarin pagi) ujian Sospol jam 7. Trus nemuin bu Rini. minta maaf masalah kuliah Seminar yang ga' masuk2. Kemarin lusa begadang, sekarang begadang lagi. lemas gw! rencananya sih mau nge-crop gambar buat tugas si Sari sekalian ngedit tampilan blog Shera. tapi badan gw dah sangat2 tidak bertenaga lagi. i'm so tired!!


Selasa, 19 Juni 2007

Personal

Seorang teman komentar tentang blog gw. katanya isinya masalah pribadi semua. bikin orang malas buat ngebaca apalagi ngasih komentar.
Tadinya memang blog gw berisi hal2 yang lebih umum. dan tampilannyapun dipenuhi aksesoris buat interaksi dengan pembaca (blog). seperti soutbox, mybloglog, dan juga status YM. Tapi sekarang gw pengen blog ini lebih personal. seperti deskripsinya, blog ini adalah isi hati dan pikiran gw. maaf, bukannya gw sombong atau ga' mau kenal dengan blogger yang lain . tapi untuk saat ini gw memang lg pengen sendiri (lho, kok malah curhat lg..?). tapi masih ada ruang buat sobat semua ngasih comment kok. klik aja comment dibagian bawah tulisan. trus tulis komentar sobat. bagi yang ga' poenya account google maupun blog, pilih other (letaknya ditengah) dan jangan lupa nulis nama sobat, ok!


Senin, 18 Juni 2007

Sebuah Cerita tentang Kasih Sayang*

Pada suatu ketika ada suatu pulau yang dihuni semua sifat manusia. Ini berlangsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia. Sebelum kita mengkotak-kotakkannya kedalam istilah baik atau buruk. Sifat-sifat ini berdiri sendiri sebagai manusia dengan masing-masing ciri khasnya. Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, Kasih Sayang, dan sifat-sifat manusia lainnya.
Suatu hari ada pemberitahuan bahwa pulau itu akan tenggelam pelan-pelan. Sifat-sifat ini dilanda kepanikan. Mereka segera menyiapkan perbekalan dan bersiap-siap meninggalkan pulau dengan perahu yang mereka miliki.
Kasih sayang belum siap. Dia tidak memiliki perahu sendiri. mungkin dia telah meminjamkannya kepada seseorang bertahun-tahun yang lalu. Dia menunda keberangkatan pada saat-saat terakhir karena sibuk membantu teman yang lain bersiap-siap. Akhirnya kasih sayang memutuskan ia perlu meminta bantuan.
kemakmuran baru saja akan berangkat dengan perahu yang besar lengkap dengan teknologi mutakhir.
"Kemakmuran bolehkah aku ikut denganmu?" tanya kasih sayang.
"tidak bisa" jawab kemakmuran. "perahuku sudah penuh dengan seluruh emas, perak, perabotan antik dan koleksi seni. tak ada ruang untukmu disini."
Lalu kasih sayang minta tolong pada Kesombongan yang lewat dengan perahu yang indah. "Kesombongan, sudikah engkau menolongku?"
"maaf," jawab kesombongan, "Aku tak bisa menolongmu. kamu basah kuyup dan kotor. nanti dek perahuku yang mengkilat ini kotor jika kau naik."
Kasih Sayang melihat Pesimisme yang sedang bersusah payah mendorong perahunya ke air. Pesimisme terus menerus mengeluh soal perahu yang terlalu berat, pasir terlalu lembut, air terlalu dingin. Dan kenapa pulau ini mesti tenggelam? kenapa semua kesialan ini mesti menimpanya? meski pesimisme bukanlah teman perjalanan yang menyenangkan, Kasih Sayang sudah sangat terdesak.
"Pesimisme, bolehkah aku menumpang perahumu?"
"Oh, Kasih Sayang, kau terlalu baik untuk berlayar denganku. perhatianmu membuatku merasa lebih bersalah lagi. Bagaimana kalau nanti ada ombak yang ombak besar yang menghantam perahuku dan kau tenggelam? tidak, aku tidak tega mengajakmu."
Salah satu perahu yang paling akhir meninggalkan pulau adalah Optimisme. Itu karena dia tak percaya dengan bencana dan hal-hal buruk, termasuk pulau ini akan tenggelam. Kasih Sayang berteriak memanggilnya, tetapi Optimisme tak mendengar. Ia terlalu sibuk menatap kedepan dan memikirkan tujuan berikutnya. Kasih Sayang memanggilnya lagi, tetapi bagi Optimisme tak ada istilah menoleh kebelakang. ia terus berlayar kedepan.
Pada saat Kasih Sayang sudah nyaris putus asa, dia mendengar sebuah suara. "Ayo, naiklah keperahuku!" Kasih Sayang merasa begitu lelah sehingga dia meringkuk di atas perahu dan langsung tertidur. Ia tertidur sepanjang jalan sampai nahkoda kapal mengatakan mereka sudah sampai di daratan kering. Ia begitu berterima kasih, meloncat turun dan melambaikan tangan kepada nahkoda baik hati itu. tapi ia lupa menanyakan namanya...
Ketika di pantai, ia bertemu Pengetahuan dan bertanya,
"Siapa tadi yang menolongku?"
"Itu tadi Waktu" jawab Pengetahuan.
"Waktu?" tanya Kasih Sayang. "Kenapa hanya waktu yang mau menolongku saat semua orang tidak mau mengulurkan tangan?"
Pengetahuan tersenyum dan menjawab, "Sebab hanya Waktu yang mampu mengerti betapa hebatnya Kasih Sayang."

*George W. Burns dalam 'Simfoni Bulan' Febi Indirani, Media Kita 2006