Senin, 26 Maret 2007
Minggu, 18 Maret 2007
impian adalah hukuman tuhan?!
impian sama seperti power supply. dia mendorong kita untuk tetap bertahan mengarungi hidup walau di warnai dengan kegagalan, air mata dan darah.
Posted by adhit at 02.23 0 comments
Senin, 12 Maret 2007
mahal
pada sebuah pertemuan, salah seorang dekan mengatakan pada kami bahwa universitas tempat anaknya kuliah meminta uang sumbangan sebesar lima juta rupiah. "menurut saya itu tidak mahal". katanya. salah seorang teman yang ikut dalam pertemuan tersebut seperti kebakaran jenggot. walau dia ngga' punyaq jenggot. "wajar, karena bapak dekan, punya tunjangan besar, punya bisnis sampingan. lha , orang tua kami petani pak, dapat darimana uang sebanyak itu?!". kata teman saya.
kata mahal memang relatif. saya sering mendengar orang berkata "saya bersedia membayar berapapun, asal anak saya bisa masuk universitas anu. uang bukan masalah." sebagai seorang yang selalu susah mendapatkan sesuatu yang diinginkan karena keterbatasan uang. tentu saja saya sangat inigin berkata seperti itu , suatu hari nanti.
di kampus, di kedai kopi, sampai di kolong jembatan orang selalu bicara tentang uang. kualitas pendidikan selalu dikaitkan dengan seberapa besar uang kuliah. semakin besar, kualitasnya semakin bagus. kata para penganut kapitalis, para orang-orang yang menjadikan uang sebagai agama baru. "ngapain diurus, toh lo juga ntar lagi tamat, kalo ga' di DO tentunya. jadi ga' bakal kena imbas uang kuliah mahal." kata teman saya.
ok, ok. memang saya ga' kena. tapi yang malangnya keluarga saya adalah keluarga yang menjalankan program KB (Keluaraga Besar) dengan sangat baik. belum lagi keluarga dari paman yang menikah dengan sepupu dari kakak iparnya teman ibu saya. setelah melakukan sensus keluarga, total keluarga saya yang bakal sekolah dan kuliah berjumlah 6 juta jiwa yang tersebar di seluruh propinsi di indonesia. gjmana coba saya ga' peduli!!!
Posted by adhit at 09.47 0 comments
Senin, 26 Februari 2007
Cangkir dan Kopi
"now concider this; life is the coffee, and the jobs, money and position in society are the cups. they are just tools to hold and contain life. and do not change the quality of life. sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee provided. so, don't let the cups drive you, enjoy the coffee instead."
sungguh sebuah kata2 yg memiliki makna yg sangat dalam. ada beberapa ciri orang yang telah bekerja dalam memaknai hidup. Pertama, orang yang sibuk mengejar pekerjaan atau jabatan. orang yang seperti ini berpandangan bahwa semakin banyak cangkir, maka hidup akan semakin bercahaya. fokus hidupnya hanya untuk menambah kepemilikan. sukses diukur dengan seberapa banyak dan bagus apa yang dimiliki. tetangganya beli mobil mewah, maka dia juga akan berusaha untuk memperoleh mobil yg sama, tak jarang lebih bagus.
kedua, mereka yang hidupnya hampa. penuh dengan demdam, dengki dan iri hati. tak ada damai dan kebahagiaan. orang yang seperti ini sering melakukan mal kebaikan untuk menutupi ketidakbahagiaannya. saat merasa ditinggalkan, dia lalu melakukan amal berbuka bersama anak yatim contohnya. menutupi kehampaan dengan cangkir yang lebih mahal.
ketiga, mereka yang konsentrasi membenahi kopinya agar lebih enak, semakin enak dan menjadi sangat enak. mereka tidak pernah dipusingkan dengan penampilan cangkir. fokus pada kehidupan dan hidup yg bermakna.
terkadang memang kita tidak sadar, lebih menghawatirkan cangkir, padahal kita harus fokus pada kopi. so, enjoy your coffee, my friend!!!
Posted by adhit at 22.38 2 comments
Minggu, 25 Februari 2007
cerpen_ku
Selimut raksasa hitam masih setia menaungi angkasa. Rintik hujan mulai jatuh bagai jutaan jarum emas yang menghujam bumi. orang-orang mencari tempat untuk berteduh. tapi dia teris berjalan. Diciumnya aroma hujan yang memberi semangat untuk memenuhi panggilan sang kekasih. "ada hal penting yang hendak Dinda bicarakan." Sepotong kalimat dalam percakapan melalui telepon itu, mendorongnya untuk lebih mempercepat langkah.
"sebaiknya kita jangan terlalu sering bertemu." Dinda mulai membuka percakapan.
"saat ini Dinda ingin lebih konsentrasi kuliah."
"dan Dinda juga ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga"
"kebersamaan kita yang terlalu sering, telah merampas itu semua." Dinda bicara terus tanpa menoleh sedikitpun padanya. dan dia hanya diam.
Dia melambaikan tangan ketika melihat bus bandara melintas. hiruk-pikuk pengunjung bandara menyapa hangat telinganya. para tukang angkut berlari kearah bus yang dia tumpangi. mereka berebut menawarkan jasa pada para penumpang. dia melangkah menuju loket, dibelinya tiket untuk keberangkatan pukul satu siang. dia melirik arloji di tangan kanannya, baru jam sebelas. waktu yang cukup lama untuk menunggu keberangkatan. dihampirinya tempat duduk yang ada di lobby bandara. di sebelahnya duduk sepasang kekasih yang saling berangkulan. seperti hendak berpisah untuk waktu yang cukup lama. ditangan sang gadis, terselip setangkai bunga matahari.
"abang suka bunga apa?" Dinda tiba-tiba bertanya.
"pasti mawar. cowok kan biasanya suka bunga mawar!"
"kalau Dinda sukanya bunga matahari"
"soalnya bunga matahari itu perlambang kesetiaan. komitmen pada tujuan. walau dimalam hari ada cahaya rembulan yang begitu indah, dia tidak pernah berpaling. dia selalu setia menunggu pagi untuk dapat bertemu kekasihnya. matahari."
"Dinda ingin seperti bunga itu."
"setia menunggu datangnya seseorang. seseorang yang kepadanyalah cinta dan hidup akan Dinda serahkan." Dinda menjelaskan. dan Dia hanya diam.
Suara operator bandara yang terdengar melalui pengeras suara, mengagetkannya. waktunya chek in, Dia berjalan melewati petugas, diletakkanya barang bawaan di atas alat detektor x-ray. setelah semuanya selesai, dia berjalan menuju lantai dua, tempat dimana ruang tunggu penumpang berada. sebentar lagi berangkat.
"Dinda sudah bicarakan dengan keluarga tentang hubungan kita."
"mereka tidak setuju dan tidak akan pernah setuju."
"soal alasannya, biarlah menjadi rahasia Dinda."
"yang jelas Dinda tidak punya kuasa atas diri dan masa depan Dinda, semuanya ada di tangan keluarga. dan Dinda hanya bisa patuh."
"Dinda harap abang bisa mengerti." suara Dinda terdengar berat. Dia menatap dalam-dalam pada Dinda, ada kesedihan dalam garis-garis wajah kekasihnya itu. dan dia hanya diam.
Dia berdiri dari tempat duduknya. ditariknya nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. seperti hendak mengusir jauh kenangan dan rindu yang memadat.
"lupakanlah Dinda."
"Dinda tidak mungkin lagi mempertahankan hubungan ini."
"masalahnya tidak lagi sebatas cita-cita dan keluarga Dinda. tapi, ini masalah perasaan."
"Dinda tidak punya perasaan apa-apa lagi, Dinda tidak mencintai abang lagi." Dinda menelan ludah, suaranya serak. matanya berkaca-kaca. dan Dia hanya diam.
Dia melangkah menuju pintu pesawat. Dia akan pergi. tapi tidak pernah benar-benar pergi. sebagian dari dirinya akan tetap tinggal. menemani sejarah. sejarahnya dengan Dinda.
Posted by adhit at 21.30 1 comments
Sabtu, 24 Februari 2007
sekolah, capek deh........!!
Lain Agi, lain lagi Nana, adik saya yang satu ini paling tidak suka matematika. sekarang dia kelas 3 smu (smu atau sma?! saya lupa, soalnya tiap ganti menteri, ganti nama). suatu kali dia protes sama saya. "kenapa sih harus matematika yang di UAN (Ujian Akhir Nasional) kan?!. "kok ga' pelajaran masak aja?!". tanyanya dengan nada kesal. dia memang paling suka masak. dan, jujur aja, masakannya memang enak, apalagi nasi gorengnya. mak nyoss...! saya bingung menjawab pertanyaan adek saya itu (mau bantu?!). biar dia terhibur saya jawab aja "tunggu aja abangmu ini jadi menteri, biar usulmu itu abang terapkan dan kalau perlu UAN yang ga' jelas manfaatnya itu akan abang hapuskan."
Padahal, mengutip kata2nya om Freire (Paulo Freire;red) pendidikan adalah untuk pembebasan. bukan untuk penindasan. untuk membentuk manusia yang manusiawi. gimana generasi kita mau manusiawi, lha wong sistem pendidikannya saja sudah tidak manusiawi. yang ada malah "robotawi". wajar aja kalau anak-anak di suruh sekolah jawabnya, capek deh..!!
Posted by adhit at 12.57 0 comments
